Lanjutan cerita lalu..........
Setelah terpaku sejenak dan say good bye dengan anak-anak, aku segera melesat ke lantai atas. Di ujung lorong itulah, ruang kelas anakku. Ternyata guru kelas sudah masuk. Kuberanikan mengetuk pintu dan minta ijin untuk menemui Farrah sebentar. Dengan isyarat tangan pak guru mempersilahkan aku masuk.
Aku menerobos melewati beberapa baris kursi diiringi tatap mata keheranan anak-anak. Farrah tampak jengah dan kurang nyaman melihat bundanya jadi tontonan. Aku bergegas mendekat dan berjongkok di tepi tempat duduknya.
"Bunda belum bisa pulang sebelum minta maaf", aku berbisik.
"Kaka juga minta maaf", katanya juga dengan berbisik.
Matanya berkabut, tapi ada pelangi di wajahnya. Ia tersenyum.
"Sudah ya bun. Malu...."
Kucium keningnya, mengangguk pada pak guru, dan keluar. Ada rasa haru menelisik, saat melihatnya terus tersenyum. Aku melangkah riang, seperti melepas beban berton-ton beratnya.
Dalam perjalanan pulang Farrah sudah ceria seperti biasa. Ia menceritakan soal-soal ulangan yang katanya bisa dikerjakan dan komentar teman-temannya saat melihatku masuk ke kelas. Katanya, ada seorang teman yang komentar:
"Mamamu lucu ya pakai minta maaf segala".
Terus ini jawaban Farrah.
"Bundaku memang begitu. Kebiasaan..."
Walahhh.....
Jawaban Farrah memang seringkali jutek, tapi hatinya sangat sensitif. Sekilas tampak keras kepala dan egois, namun dia juga sangat lembut dan mudah tersentuh. Biasanya ketegangan akan mudah mencair, bila salah satu sudah minta maaf. Dan kami tak pernah malu meminta maaf. Karena maaf adalah pendar cahaya yang menghadirkan senyum dan tawa. Dan kami sering sekali melakukannya....