Persis sejak aku resign dari kerjaan, aku selalu mengantar dan menjemput Farrah sekolah. Mulanya aku memilih menggunakan jalur umum, sekitar 300 meter, melalui jalan ciledug raya. Macet dan sulit mencari tempat parkir. Lalu Farrah menunjukkan jalan pintas. Jalan pintas itu persis di belakang komplekku. Kalau naik ke genteng rumah, aku bisa melongoknya dengan mudah. Sebuah lorong sempit dengan rumah-rumah petak berdesak-desakan. Bau anyir dan aroma sayuran busuk menyeruak tajam setiap melewati tempat ini. Mulanya sangat tidak nyaman. Tapi tak lama. Segera setelah beberapa hari melewati gang yang sama, indera penciumanku semakin terbiasa. Seratus meter dari rumahku ada pasar ciledug. Dan untuk mencapai sekolah Farrah kami harus membelah tengah-tengahnya, berkelok-kelok, berhimpit-himpit dan berdesakan dengan seluruh penghuni pasar. Kian lama aku semakin menjadi bagian dari hiruk pikuknya. Selepas mengantar Farrah, aku mampir ke pasar. Aku belanja semua keperluan dapur di sana (sebelumnya aku memilih ke Carrefour, Ramayana atau Giant). Semakin sering berbelanja, semakin banyak yang kukenal. Deretan penjual daging yang riuh memanggilku saat melintas. Penjual sayuran yang ternyata orang Wonogiri, tatanggaku. Pedagang ikan yang sibuknya tak alang kepalang. Juga anak-anak kuli angkut yang mencolek-colek menawarkan jasanya. Bahkan kakek penjual opak yang hampir tiap hari kubeli dagangannya, --hingga menumpuk di rumah dan tak tahu akan kuapakan. Sebagian aku mengenal secara pribadi. Bahkan, ada yang mengundangku saat menikahkan anaknya. Akupun semakin lebur dengan komunitas ini. Betapapun, kami sama-sama datang dari kampung, merantau dan bekerja mencari uang di Jakarta. Ketika banjir melanda Jakarta, banyak pedagang yang tak bisa jualan. Rumah kontrakannya terendam banjir, dagangannya hanyut dan membusuk. Aku, --bersama dengan paguyuban pedagang pasar Ciledug— diminta ikut menandatangani petisi yang diajukan ke walikota Tangerang. Juga ketika berita tentang harga kebutuhan dasar yang melonjak naik, aku ikut larut dalam gosip dan keluh kesah mereka. Tapi puncak keresahanku adalah hari ini... Hari ini aku lihat deretan lapak yang kosong melompong. Mungkin sejak beberapa hari lalu, hanya saja aku tak menyadari. Dan aku tahu ketika akhirnya aku membutuhkan sesuatu: Tempe!! Ya Allah….para penjual tempe dan tahu itu entah dimana. Meski lelah berkeliling, tak satupun kutemukan di pasar besar ini. Tak sadar, gigiku bergemeretak geram. Marah. Bagaimana negara yang mayoritas penduduknya makan tempe ini dibebani harga bahan baku yang tak masuk akal? Bagaimana mungkin negeri agraris ini menggantungkan impor kedelai pada Amerika? Ya Amerika!! Ini jahat atau bodoh? Lalu teringat bapakku di kampung yang bersimbah keringat menanam kedelai dengan biaya produksi yang terus mencekik! Aku pulang, kutatap ujung kaki dengan hati gundah. Di tikungan jalan, ada pemandangan yang mengusik. Seorang perempuan dengan kerudung jarik (kain batik) menengadahkan tangan. Wajahnya tertunduk, duduk bersila tampak canggung. Di sebelahnya tergolek anak usia 2 tahun menggenggam botol minuman berisi air keruh. Di depannya ada kaleng susu dengen beberapa keping uang logam. Biasanya tak pernah ada peminta-minta di daerah sini. Kuangsurkan sedikit uang kecil sambil mengawasi wajahnya yang tirus. Ia menoleh ke samping, membuang muka. Aku tercekat, seperti mengenalnya meski tak ingat dimana. Tidak. Itu bukan dia. Aku menggeleng-gelengkan kepala. Bukan. Jangan dia…. Tiba-tiba aku menjadi sangat takut. Takut pengemis tadi adalah salah satu penjual tempe yang tak punya apa-apa lagi untuk diandalkan. Yang tak mampu lagi membelikan susu anaknya. Tak memiliki lagi persediaan beras. Putus asa. Dan hanya punya tangan untuk ditengadahkan. Jangan…. Jangan dia…… Tapi sekuat apapun aku menggelengkan kepala dan berteriak tidak!!! Hati kecilku yakin mengatakan, pengemis itu memang dia.... Ciledug, 16 Januari 2008
 | aiii sediiiiihh nian membaca ini sis .... sungguh kasihan memang ya nasib para penjual dan produsen tempe tahu sekarang ini ... |
 | hiks...terharu bacanya....iya mba ade,jadi gemas klo baca berita,harga kedelai tembus 10 ribu,jangan2 negeri kita memang akan kehilangan tempe....dan yang terkena imbas adalah pasti pedagang kecil.......fhhh..sedih klo mikir gitu..... |
 | brecs wrote on Jan 16, '08, edited on Jan 16, '08 tidak!!! kau tidak sedang bermimpi... |
 | Tulisan Mbak Ade selalu bikin terhenyak! Sedih, nggak terima nasib bangsa kita yang nggak maju-maju begini. Yang di bawah ditekaaaan terus sampai nggak tahu harus lari ke mana lagi. Akhirnya jadi pengemis :( |
 | Pemerintahnya nggak tanggap.......bisa makan pake lauk tempe aja udah untung karena nggak kuat beli ikan dan daging....malah sekarang tempenya nggak ada lagi/susah dicari...... Duh.....makin hari kok ceritanya makin menyedihkan aja negeri-ku itu huu...huu...hu.. |
 | sedih bgt bacanya mbak.. denger cerita tukang sayur keliling jg mirip, banyak pembuat tempe yg bangkrut |
 | dyru wrote on Jan 16, '08 sedih banget.. selain yg jualan, masyarakat juga buat beli protein hewani mahal, sekarang yang nabati juga mahal.. dapet gizi dari mana.. hiks |
 | aduh sedihnya..memang tahu dan tempe lagi langka ya mbak Ade, di Kompas malah diberitakan ada yang bunuh diri..hiks.. |
| duh, kapan yaa ada kabar menggembirakan dari negeri kita. Beritanya sedih melulu.... |
 | sya2 wrote on Jan 16, '08 baca berita kmren ada tukang gorengan yang bunuh diri gara2 harga tempe yg melonjak, ya allah miris deh |
 | padahal orang indonesia kan hidup karena tempe dan tahu !! |
 | aduh daku baru makan tempe nih di kantor, kok ada ya, di cibubur kosong juga hehehe hiks, sedih, karena daku tiada hari tanpa tempe hehehe |
 | merinding Bunda bacanya De.. miris banget.. :(
Beberapa hari ini tempe dan tahu benar2 menghilang .. Ah.. jadi ngeri membayangkan nasib yg sama dialami penjual tempe seperti cerita Ade diatas.. *sigh* |
 | duhh kasian sekali ya... Karena kedelai yang mencekik harganya ,,penjual tempe dan tahu jadi hilang ya..sedih dengerinnya.. Semoga ini tak berlangsung lama.. sabar ya.. |
 | Benaran ya ada yang sampai bunuh diri begitu. Sedih....
Di Penang tempe banyak, kadang di supermarket sampai busuk. Mungkin yang beli cuma orang Indonesia yang tinggal disini. Tapi tetap aja di produksi, bahkan pemerintah Malaysia menganjurkan masyarakatnya makan tempe, selain tahu dan susu kedelai.
|
 | sampai sebegitunya ya mbak akibat kenaikan harga kedelai :(( sebenernya masih heran banget, harganya kok bisa sampe sebegitu melambung ya
semoga ada solusi yang terbaik untuk semua ! |
 | hiks... mudah-mudahan jangan dia.... *ikut berharap* |
 | Mbah2 yang jual tempe langgananku di pasar purwosari trus nasibnya gimana ya...? Sedih kalo mikirin negaraku. Kesel dan marah campur aduk tapi nggak bisa apa-apa. |
 | ti2n wrote on Jan 17, '08 hiks..hiks.... menyedihkan sekali. Mbak Ade pinter banget membuat aliran ceritanya. endingnya mengena banget!
|
 | ibuku suka bikin tempe sendiri, tempe dele atau tempe benguk. tenang aja mbak, orang kecil tangguh2 kok. tar pasti bangkit lagi :) |
 | iya mbak..disini tempe juga mahal..cis paling doyan tempe sekarang dikurangi belinya...hik |
| nangis mbacanya mbak Ade, sediih hiks.. |
 | Duuuuuuuuuuuuuh, huhuhuhuhu :-( *serasa ditampar kr aku 'nyaman' dalam kesedihanku pribadi* TFS Mba sayang.... |
| |